April 19, 2012

Keunikan dan Kemegahan Jam Gadang Bukittinggi

            Jam Gadang, merupakan icon dan objek wisata kota Bukittinggi, berjarak sekitar 86 km dari pusat kota Padang, ibukota Sumatera Barat, Indonesia. Untuk sampai di lokasi ini dapat ditempuh melalui jalan darat menggunakan angkutan umum atau jasa perjalanan dari kota Padang. Lama perjalanan dengan kecepatan normal sekitar 2 jam. Setelah memasuki pusat kota dapat dilanjutkan menggunakan angkot yang mana jaraknya sangat dekat.

Gadang (bahasa minang) yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah ‘besar’, karena memang ukurannya yang besar. Jika diterjemahkan ke bahasa daerah uda Nazar adalah ‘Big’ hehehehehe….Ya bagi uda Nazar ini adalah kembaran dari jam besar di Inggris ‘Big Ben’ khuahahaha….


            Eits…jangan ketawa dulu ya…ini memang kembaran dari ‘Big Ben’ lo, mau tau ceritanya? Konon kabarnya menurut catatan sejarah mesin yang berada di dalam Jam Gadang ini hanya ada 2 di dunia ini. Pertama tentu saja yang berada di Jam Gadang Sendiri, lalu yang kedua berada di dalam menara jam Big Ben di Inggris. Mesin manual ini dibuat oleh seorang ahli dari bangsawan terkenal, Forman, yang kemudian mesin ini diberi nama ‘Brixlion’. Tuh betulkan kembarannya Big Ben.

            Lalu dimanakah letak keunikan dan kemegahan Jam Gadang ini? Oke lanjut ke cerita uda Nazar selanjutnya:

Keunikan Jam Gadang
            Konon kabarnya menurut catatan angku ini dan angku itu serta catatan dari intel TNI, CIA, PBB, dan FBI (khuahahahaha lebay banget ya) jam ini tidak dibuat dengan besi penyangga dan adukan semen tetapi hanya dengan kapur, putih telur dan pasir putih.
            Lalu coba perhatikan tulisan pada jam tersebut yang merupakan susunan angka-angka romawi dari I-XII. Pada angka 4 dimana seharusnya adalah IV angka romawi, tetapi disini ditulis IIII. Sayangnya uda Nazar belum memperoleh informasi kenapa hal itu terjadi. Apakah memang disengaja atau terdapat kekeliruan. Tetapi itu merupakan keunikan tersendiri karena sampai sekarang dibiarkan saja seperti itu.

Kemegahan Jam Gadang
            Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 13x4 m ini berdiri kokoh dipusat kota Bukittinggi. Jika masuk ke dalam bangunan ini maka terdapat beberapa tingkat dengan total ketinggian mencapai 26 m. Dibagian paling atas terletak sebuah bandul besar dari jam tersebut (bandul ini pernah diganti karena patah akibat gempa tahun 2007).
            Bangunan ini memiliki 4 buah jam besar dengan ukuran diameter 80 cm, dimana mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Jam tersebut didatangkan lansung dari Rotterdam, Belanda, diangkut melalui Teluk Bayur dengan menggunakan kapal. Mesinnya sendiri hanya terdapat 2 buah di dunia ini seperti yang sudah uda Nazar uraikan diatas.

Sejarah Jam Gadang (sumber Wikipedia)
Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi) pada masa pemerintahan Hindia-Belanda. Arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Sutan Gigi Ameh, sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada saat itu masih berusia 6 tahun.
Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikannya, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi.
Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kali perubahan pada bentuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk klenteng. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.
Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dan kedutaan besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262 pada tanggal 22 Desember 2010.

Sekian dulu informasi dari uda Nazar mengenai Jam Gadang. Silahkan berkujung untuk menikmati keunikan dan kemegahannya. Baik itu Jam Gadang sendiri maupun panorama kota Bukittinggi yang dapat dilihat dari atas Jam Gadang.


           

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini. Komentar yang belum Uda Nazar balas mohon sabar ya......