April 20, 2012

Persahabatan Urang Awak & Wong Kito

            Sebelumnya uda Nazar menyatakan bahwa cerita ini adalah cerita lepas tanpa ada catatan sejarah ataupun referensi. Murni sebuah karangan yang tidak formal. Nah untuk itu marilah kita simak artikel ini sampai habis.
            Urang Awak merupakan sebutan masyarakat di Sumatera Barat yang mana artinya berasal dari daerah Minangkabau. Istilah ini biasa dipakai bila bertemu di daerah perantauan yang terdiri dari banyak kebudayaan. Sama halnya dengan Wong Kito, sebutan bagi masyarakat Sumatera Selatan.
            Awal kisah ada dua orang sahabat, Sutan yang berasal dari Sumatera Barat dan Datuk yang berasal dari Sumatera Selatan. Disinilah dimulai cerita diantara mereka berdua.

Aia Tawa dan Banyuasin
            Suatu hari Sutan diterima bekerja di daerah Sumsel dan bertemu dengan Datuk, sahabatnya satu mess di lokasi bekerja. Lalu Datuk bercerita kepada Sutan bahwa dia sekarang berada di Banyuasin. Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia artinya ‘Air Asin’.
            Pada saat cuti panjang, Datuk ingin sekali berkunjung ke tempat asal Sutan yaitu di Sumbar. Akhirnya mereka berangkat melalui jalan darat dan sampai di tujuan hari sudah larut. Esok harinya Datuk bertanya tentang daerah yang baru baginya. Lalu Sutan menjawab bahwa kita sudah berada di kota Padang dan nama wilayah ini adalah Aia Tawa, dalam bahasa Indonesia artinya ‘Air Tawar’.

Lembang dan Lansek
            Hari itu juga Sutan mengajak Datuk ke pusat perbelanjaan di pasar raya kota Padang. Saat melewati pedagang buah-buah Datuk mendengar penjaja mengatakan ‘lembang nan manih yo…limo ribu saonggok’ dan disebelahnya terdengar ‘lansek…lansek…nan asli siko juo…lansek…lansek’.
           Datuk yang bingung bertanya kepada Sutan, lalu Sutan menjelaskan bahwa itulah persahabatan antar pedagang seperti kita ini, yang satu menjual lembang (buah duku asal Palembang) dan sebelahnya menjual lansek (buah duku dari Sumbar, bijinya agak lebih besar). Mereka sangat akur satu sama lainnya.

Paku dan Kapal Selam
            Karena mereka dari rumah belum sarapan pagi, maka terjadilah percakapan diantara keduanya.
Sutan: kita cari makan dulu yuk..lapar nih…
Datuk: boleh yuk…kira-kira untuk sarapan apa yang enak ya?
Sutan: hmmm…kalau gitu kita makan lontong gulai paku aja…
Datuk: haa??? Gulai paku??? Bisakah paku dimakan?
Sutan: tersenyum dan berjalan ke kedai lontong dan memesan lontong.
Datuk: waaaaahhhhh lezat juga ya lontong gulai paku ini…ternyata ‘paku’ itu adalah ‘sayur pakis’ yaa….
            Setelah puas menjelajah daerah Sumbar, mereka pun kembali ke Sumsel untuk bekerja. Sebelum menuju lokasi Datuk mengajak Sutan makan kapal selam dulu. Ternyata mpek-mpek kapal selam yang nikmat sekali rasanya.

            Nah itulah persahabatan antara Urang Awak dan Wong Kito yang sangat unik sekali. Uda Nazar juga pernah mengalaminya karena uda memang pernah tinggal di daerah Sumsel selama 4 tahun yaitu di daerah Pendopo namanya. Menghabiskan waktu bersama Wong Kito yang ramah sekali.

6 comments:

  1. paku, kirain sama paku beneran. hahah, ada ada aja. taunya paku tanaman paku tooo. nice gan,
    silahkan di coba alexanya. ok

    ReplyDelete
  2. hahaha...thanks gan..kunjung balik ke TKP

    ReplyDelete
  3. inilah indonesia, perbedaan budaya dan bahasa bikin tertawa, semakin membuat kita bangga saja. nice gan.

    ReplyDelete
  4. saya bangga dengan Indonesia...udah kunjung balik ke TKP gan...

    ReplyDelete
  5. hhhh ijin galak ciek gan....

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel ini. Komentar yang belum Uda Nazar balas mohon sabar ya......